//
you're reading...
Uncategorized

Makanan Sebagai Sarana untuk Mendidik

Bagi anak, makan itu sebetulnya bukan soal memasukkan makanan ke perut. Selain sebagai kebutuhan primer untuk ketahanan dan kesehatannya, makan juga menjadi sarana pendidikan. Tergantung apakah kita akan menggunakan kesempatan itu atau tidak.

Sebelum makan, kita bisa mengajarkan anak untuk berdoa. Di semua agama, doa itu pasti mengandung ajaran-ajaran spiritual yang terkait dengan bagaimana kita menjalani hidup. Makanan itu bukan soal benda yang diolah, tetapi ada keterlibatan Tuhan di situ. Ada berkah, ada rejeki, dan lain-lain.

Melalui contoh kasus makan, kita bisa mengajarkan anak menghargai usaha orang. Misalnya, anak kita ingin makan ini dan itu, tapi setelah dimasak / dibeli, makanan itu diabaikan. Kasus semacam inilah yang bisa kita gunakan untuk memasukkan pendidikan.

Pada kasus yang berbeda, mungkin kita menemukan anak yang meminta ibunya untuk membelikan berbagai jenis makanan, tapi hanya untuk disimpan di kulkas yang akhirnya basi atau untuk dimakan sendiri. Kita bisa mengajarkan nilai-nilai sosial seperti sedekah atau berbagi.

Bahkan kita juga bisa mengajarkan kemandirian supaya anak menjauhi sifat yang suka mengatur dan memerintah yang membahayakan dirinya nanti. Terkadang, karena keasyikan nonton, anak kita langsung menyuruh pembantunya untuk mengambilkan makan siang atau makan malamnya ke tempat tidur. Kita bisa melarangnya dengan penjelasan yang mendidik.

Nilai pendidikan lain yang bisa kita ajarkan melalui makan adalah etika dan norma. Misalnya cara duduk yang menurut etika kita baik dan buruk. Atau mengajarkan norma-norma sosial yang berlaku di tempat kita, misalnya norma bertamu atau mengikuti pesta.

Tak terkecuali bagi orangtua. Menyediakan makanan buat anak itu bukan soal memasak bahan, tetapi di situ ada tantangan. Tidak semua anak yang malas-malasan makan di rumah itu karena anaknya. Mungkin juga karena kita.

Orangtua dituntut untuk mengetahui berbagai khasiat / kegunaan bahan makanan. Dengan mengetahuinya, orangtua akan mudah menjelaskan kenapa anak perlu makanan dan kenapa kita memilih jenis makanan tertentu pada hari tentu. Makanan mengandung penjelasan tentang gizi dan edukasi.

Orangtua juga dituntut untuk mengeluarkan daya kreatifnya selama dalam proses memasak makanan. Orangtua yang tidak kreatif, mungkin masakannya akan dinilai kurang menarik. Namanya juga anak-anak, pasti dia membutuhkan sensasi tertentu untuk membangkitkan seleranya. Semoga bermanfaat.

Sumber : sahabatnestle
Lihat juga :
laguna
sushi tei
tamani

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

September 2010
S S R K J S M
    Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Arsip

%d blogger menyukai ini: