//
you're reading...
cafe & resto, Kuliner Nusantara

24 Sambal dengan Berbagai Nama Julukan Gaulnya

YOGYAKARTA, kota yang kondang dengan gudeg manisnya, kini diserbu makanan serba pedas. Sambal, yang kodratnya menu pelengkap untuk penambah selera makan, justru menjadi sajian utama, seperti di Waroeng Spesial Sambal.

Kami sebelumnya pernah menyambangi warung Pondok Cabe yang juga menyajikan rupa-rupa sambal. Begitu juga Warung X-tra Hot dan Cabe Nusantara. Ketiga warung itu sama-sama menawari masakan serba pedas, sesuai namanya.

Yang unik dari Waroeng Spesial Sambal (SS) salah satunya karena warung ini menawarkan 24 jenis sambal dengan julukan gaulnya masing-masing. Sambal belut, misalnya, dijuluki sambal smackdown. Maksudnya, belut yang dipelesetkan menjadi gelut dan dalam bahasa Jawa berarti berkelahi. Lantas, diutak-atik gatuk dan ketemu kata smackdown. Kok beberapa sambal belum punya julukan? ”Kami belum menemukan nama gaul yang pas dan lucu,” sahut pemilik Waroeng SS di Jalan Kaliurang, Yoyok Hery Cahyono.

Semua sambal dibuat sesuai pesanan sesaat sebelum disajikan. Kami menjadi penasaran menjajal aneka sambal itu. Sambal terong yang merah merona cukup menggoda, tetapi sambal bawang lebih pas untuk teman tahu goreng. Ada juga sambal rempelo ati, sambal udang pedas, sambal lombok ijo, sambal tempe, sambal pecel, dan sambal teri.

Kami akhirnya memilih sambal gobal-gabul, campuran sejumlah sambal, sambal terasi ijo, dan sambal kecap. Tiga cobek masih kurang untuk disantap dua orang. Kami pun memesan dua cobek lagi, sambal udang pedas dan sambal belut. Memesan dua jenis sambal ini pas dengan peribahasa sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Memesan sambal sekaligus dapat lauk.

Memang begitulah ciri SS. Julika yang bersantap bersama Mongki dan Bondan, ketiganya mahasiswa Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM), mengatakan, ”Nasi sambal sudah cukup, sambalnya nglawuhi (seperti lauk).”

Memesan nasi dan sambal saja tentu boleh, asalkan tega, karena harga satu cobek sambal ”cuma” Rp 1.000-4.000. Maka, kami pun memesan ayam, nila, dan wader goreng, plus urap dan lalapan. Kepedasan? Tenang, SS bisa memberi rasa pedas sesuai permintaan.

Pada dinding warung terpampang tulisan. Warung siap menerima keluhan untuk rasa sambal, misalnya keasinan atau kepedasan. Sambal pengganti pun akan disuguhkan.

Harga di warung ini termasuk murah. Kalau mau super-irit, pesanlah sepiring nasi, satu telur mata sapi, seporsi sambal, dan segelas air putih. Cukup merogoh kocek Rp 5.000.

Buat pemuja pedas seperti Asti (30), karyawati swasta, makan dengan sambal di warung belum cukup. Ia kerap memesan lima hingga enam bungkus sambal untuk dibawa pulang. ”Lima bungkus bisa untuk tiga hari. Dimasukkan kulkas dulu. Nanti kalau mau makan, baru dihangatkan,” kata dia.

Dari hobi

Bagaimana sampai kemudian Yoyok mendirikan warung sambal di Yogyakarta, memecah kemapanan lidah masyarakat akan rasa yang serba manis? Kata Yoyok, usaha ini bermula dari kegemarannya menyantap sambal.

Yoyok yang jebolan mahasiswa Teknik Kimia UGM itu jenuh dengan kuliah 10 tahun yang tak kunjung kelar. Hal itu mengantarnya pada kesadaran bahwa kuliah tidak lagi sesuai dengan kata hati. Yoyok pun memutuskan tidak melanjutkan kuliah, padahal skripsi telah rampung dia kerjakan.

Yoyok lantas bekerja di sebuah perusahaan penyelenggara kegiatan yang ternyata tidak pula memberinya kenyamanan. Pada satu saat, tiba-tiba ia ingat kegemarannya makan sambal dan terinspirasi mencari peluang bisnis.

Warung sambal pertama Yoyok ada di Jalan Kaliurang, sisi barat Gedung Graha Sabha Pramana UGM, berdiri tahun 2002. Ia kerjakan semua sendiri, mulai mendirikan tenda, menyambal, mencuci piring, hingga menyajikan pesanan.

Tak dinyana, ternyata masyarakat, khususnya mahasiswa, merespons baik. Setahun kemudian, Yoyok membuka satu warung lagi. Warung SS pun terus beranak pinak, hingga kini ada 33 cabang di seluruh Indonesia, sebagian berkonsep waralaba.

Dari jumlah itu, 13 warung berada di Yogyakarta, selebihnya tersebar di Klaten, Solo, Bandung, Jakarta, Karanganyar, Malang, Magelang, Cirebon, hingga Pekanbaru.

Jenis sambal pun bertambah, dari mulanya 11 sambal menjadi 24 sambal. Jumlah itu dipertahankan sampai sekarang. Lantas, berapa banyak cabai diulek tiap hari? Yoyok memberi gambaran, setidaknya untuk 13 warung di Yogyakarta dibutuhkan paling sedikit 40 kilogram cabai rawit dan cabai keriting, serta 10 kilogram cabai hijau per hari.

Karyawan Yoyok kini 250 orang. Mereka mengelola warung di Jawa dan Sumatera. Bagi Yoyok, karyawan adalah aset.

”Urusan membuat sambal dengan rasa ajek sejatinya adalah tantangan. Tak semua orang bisa melakukan. Butuh waktu lama melatih satu orang sehingga piawai menyambal. Maksudnya sampai punya insting menyambal, hanya melihat warna sambal sudah tahu rasanya,” ujar Yoyok.

Penasaran dengan rasa pedas Waroeng SS? Sambangi saja warungnya. Tandanya jelas, di dinding warung tergambar maskot SS berupa orang-orangan berbentuk cabai merah besar mengenakan kaca mata. Namanya Mr Huh Hah.

Sambal di Waroeng SS memang pedas habis. Huh hah…!!!

Sumber     : nasional.kompas
Lihat juga : marzano, loewy, table8

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Oktober 2010
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Arsip

%d blogger menyukai ini: