//
you're reading...
Kuliner International

D’Waoreng

Lampion-lampion kuning menggantung di sekitar area makan berkapasitas 30 orang. Cahaya redup dari lampion membangun suasana ruangan yang hangat. Suasana yang nyaman membuat D’Waroeng, yang terletak di Jalan Hasanudin no 10, pas untuk waktu stress anda.

Ya namanya warung, tapi lebih modern disebut dengan kafe. Saat ngobrol-ngobrol dengan pengelola cafe, Surya Adiningrat atau Yadie (55) sebenarnya tempat ini adalah food court. Hanya saja, Yadie sebagai pengelola ingin memberikan suasana lain dari kebanyakan food court yang pernah ada.

“Menyajikan food court dengan cafe,” ujar Yadie.

Ruang untuk makannya sendiri tidak terlalu luas hanya terdiri dari beberapa meja dengan kapasitas sekitar 30 orang. Suasananya cukup membuat nyaman dengan penerangan yang redup. Kursi-kursi yang terbuat dari kayu dengan sebuah televisi flat yang menempel di dinding cafe.

“Mungkin orang-orang menyangka ini adalah cafe padahal food court,” ujar Yadie. Yadie ingin menggaet pengunjung dengan cara lain. Apalagi di Jalan Hasanudin yang lebih akrab dengan anak muda ini belum ada tempat seperti D’Waroeng.

Yadie akui kapasitas tempat masih sedikit. Tapi itu baru awalnya. Rencananya, seperti tagline D’Waoreng, Bandung Foodfest, tempat ini akan dijadikan seperti festivalnya makanan Bandung. Tempat makan akan diperluas sampai ke halaman dengan pengaturan ruang yang lebih terbuka.

“Nantinya akan lebih banyak mengajak para pedagang untuk berjualan di tempat ini,” ucap Yadie.

Maka menu makanannya pun akan jadi campur-campur. Dari nuansa western dengan nama Dapur Rempah, nuansa Sunda sampai sentuhan oriental dengan Mr. Dimsumnya. Termasuk aneka menu bebek, ayam Hongkong, juga menu steak dan lain-lain.

Satu menu yang membuat tertarik adalah menu tulang jambal yaitu tulang jambal pepes. Dari sisi penyajian cukup menarik. Seperti bacang, pepes jambal dibungkus dengan daun bambu.

Daun bambu dibuat seperti mangkuk sehingga daun-daun kemangi dan tonjolan-tonjolan tulang jambal terlihat Disajikan dengan nasi berbungkus daun pisang yang ketika dibuka kepulan asap dari nasi yang panas langsung keluar. Tambahan lainnya adalah tahu dan tempe goreng, sambal terasi dan tak lupa lalapan.

Rasa pepes jambalnya sendiri kurang begitu menonjol. Terkalahkan dengan sambal terasi yang memang pedas. Apalagi dengan nasi yang mengepul hangat mulut makin terasa panas. Sementara di meja sebelah ada seorang ibu hamil yang sedag nikmat-nikmatnya menyantap dimsum. Ehm…

Untuk harga relatif. Tapi tempat ini menyatakan harga mereka cukup murah di kantong. Dari mulai dimsum Rp 8 ribu sampai yang termahal menu iga Rp 27 ribu. Bagaimana, sesuaikah dengan kantong anda?

Sumber : bandung.detik
Lihat juga : laguna, sushi tei, tamani

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Oktober 2010
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Arsip

%d blogger menyukai ini: