//
you're reading...
Kuliner Nusantara

Rujak Gatik – Racikan dengan Alat Tradisional

Sesuai dengan tempatnya, Warung Rujak Gatik pasti menjual rujak. Warung yang beralamat di Jalan Helvetia Pasar VIII Desa Manunggal Kecamatan Labuhan Deli ini berbeda dengan rujak kebanyakan.Makanya tak heran kalau rujak ini laris manis di pasaran.
Jumat (17/9) contohnya, pembeli rela antre untuk mendapatkan rujak tersebut. Padahal dari sisi tampilan, warung tersebut cuma semi permanen. Tetapi, pemilik warung sudah mulai berjualan sejak tahun 1986.
Usaha warung rujak ini, merupakan usaha turun temurun. Warung rujak tersebut buka setiap hari mulai pukul 11.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB, tetapi terkadang Jumat tutup.
Selain menjual rujak, warung tersebut juga menjual pecal yang tidak kalah enaknya dengan rujak. Harganya pun cukup terjangkau. Dengan mengeluarkan kocek sebesar Rp9.000 kita sudah mendapatkan rujak atau pecal satu bungkus.
Pemilik warung, Rahim (50) mengatakan, yang membuat beda rujak Gatik dengan rujak tempat lain, adalah masalah bumbunya yang khas dan juga harganya yang cukup terjangkau.
Lebih lanjut Rahim menambahkan, buah-buah sebagai bahan rujak tidak semuanya dibeli di pasar. “Buah pisang kami tidak membeli, karena di belakang rumah, kami mempunyai kebun pisang. Tetapi buah yang lainnya tetap kami beli,” ungkapnya. Buah yang dibeli di pasar semisal nenas, jambu air, jambu kelutuk, pisang kelutuk, bengkoang, pepaya, kedondong dan timun. Soal bumbu sambung Rahim tidak menjadi rahasia kepada pelanggan, sebab pelanggan bisa melihat secara langsung proses pembuatan rujaknya.
“Kami membuat bumbu dengan alat tradisional yakni dengan uleka batu yang besar. Untuk bahan bumbu rujak tersebut kami hanya meraciknya dengan garam, cabai, belacan, pisang kelutuk, gula, dan gula merah yang dicampur menjadi satu dan selanjutnya dimasukkan ke dalam ulekan,” ungkapnya. Salah seorang pembeli, Oni (18) warga Jalan Pasar VI mengaku sering membeli rujak di tempat itu. Disamping harganya terjangkau, kata Oni rujak Gatik ini rasanya pun enak.
“Beda rujak di sini dengan di tempat lain, bumbunya di sini lebih terasa, pedas, manis, pas lah pokonya jadi pembeli pengen kembali untuk membelinya lagi,” ungkapnya.
Dalam seminggu, tambah Oni, dia bisa membeli rujak selama empat kali seminggu. Sekali membali bisa memcapai empat bungkus.
* hariansumutpos
Lihat juga : burger, tamani, sushi tei

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

November 2010
S S R K J S M
« Okt   Des »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Arsip

%d blogger menyukai ini: